ISSN 2477-1686

Vol.2. No.15, Agustus 2016

 

Sains di Balik Adu Penalti: Masihkah Dewi Fortuna Dibutuhkan?

Sunu Bagaskara

Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

Sepuluh tahun yang lalu, Minggu, 10 Juli 2006, ratusan juta pasang mata terpaku ke layar kaca, menyaksikan momen-momen yang sayang untuk dilewatkan.Malam itu sedang berlangsung partai final Piala Dunia 2006 di Berlin, Jerman. Setelah 120 menit pertandingan penuh drama, gelar juara dunia belum juga dapat diraih oleh kedua tim yang bertempur, Italia dan Prancis. Papan skor masih menunjukkan angka 1-1.Peluit panjang pun ditiup, tanda pertandingan harus berakhir.Drama yang lebih menegangkan pun dimulai; adu penalti.Italia akhirnya berhak menyandang gelar juara setelah menundukkan Prancis 5-3.

Bagi pendukung Italia, kemenangan tersebut menunjukkan bahwa tim mereka adalah yang terbaik di dunia. Sebaliknya, pendukung Prancis beranggapan bahwa timnya kalah karena kurang beruntung (terlepas dari 'insiden’ tandukan Zidane); Italia tidak lebih baik dari mereka; kekalahan di adu penalti bukanlah benar-benar kalah. Dari reaksi ini, muncul pertanyaan yang selama ini menggugah pikiran banyak orang: benarkah adu penalti hanya tentang keberuntungan? Benarkah hanya keberuntunganlah yang membedakan antara Sang Juara dan Sang Pecundang?

Adu Penalti dan Keberuntungan

Sejumlah penelitian di bidang ilmu olahraga (baik secara psikologis maupun fisiologis) telah dilakukan untuk mencoba menelusuri faktor-faktor apa saja yang menentukan keberhasilan dalam adu penalti. Satu di antara sekian banyak peneliti yang giat terlibat dalam usaha ini adalah Geir Jordet, seorang peneliti ilmu olahraga berkebangsaan Norwegia. Serangkaian penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh Jordet beserta sejumlah koleganya menemukan bukti-bukti empiris bahwa kesuksesan ataupun kegagalan dalam adu penalti dapat diprediksi melalui sejumlah faktor yang melekat pada pemain.Apa saja yang telah ditemukan?. Mari kita bahas beberapa di antaranya.

Stress. Dalam sebuah penelitiannya, Jordet dkk. (2007) melakukan analisis video dan catatan pertandingan, khususnya ketika adu penalti , yang terjadi di turnamen-turnamen  besar sepakbola dunia, yaitu Piala Dunia, European Championship (Liga Champions Eropa/EC), dan Copa America (Piala Amerika/CA).Dia menemukan bahwa kesuksesan tendangan penalti pada ajang Piala Dunia (71,2%) jauh lebih kecil daripada pada kedua turnamen lainnya (EC = 84,6%; CA = 82,7%). Kenapa demikian? Jordet menduga bahwa semakin sebuah turnamen dianggap penting, maka semakin besar pula tekanan dan kecemasan yang muncul pada pemain. Stress ini lah yang pada akhirnya menyebabkan penurunan performa pemain.

Urutan penendang. Dalam penelitian yang sama, Jordet, dkk. (2007) juga menemukan adanya perbedaan kesuksesan adu penalti pada penendang #1 (86,6%), #2 (81,7%), #3 (79,3%), #4 (72,5%),#5 (80%), #6-9 (64,3%). Tingkat kesuksesan ditemukan menurun berdasarkan urutan, kecuali untuk penendang #5.Hal ini, menurut Jordet, disebabkan oleh persepsi mengenai penting-tidaknya terhadap hasil tendangan.Seperti kita tahu, tendangan #1-#3 bukan lah tendangan yang menentukan hasil akhir. Dengan kata lain, kemenangan atau kekalahan dalam adu penalti mulai ditentukan oleh tendangan #4 dan seterusnya. Nah, persepsi ini kemudian menyebabkan stress yang tinggi terhadap pemain, sehingga mengganggu performa mereka.

Response time. Pada penelitian yang berbeda, Jordet (2009) menemukan peran response time terhadap kesuksesan tendangan penalti. Response time adalah jarak waktu antara sinyal dari wasit dibunyikan hingga langkah pertama pemain ke arah bola. Jordet menemukan bahwa pemain yang mengambil jarak waktu yang agak panjang (response time tinggi) lebih sukses (82,4%) dalam menceploskan bola ke gawang dibandingkan pemain yang segera mengambil langkah ketika wasit meniup peluit (response time rendah; 68,2%). Menanggapi temuan ini, Jordet mengungkapkan bahwa dalam situasi adu penalti, pemain mengalami tekanan dan kecemasan yang besar, yang kemudian menyebabkan kecenderungan untuk menampilkan performa yang lebih buruk daripada yang diharapkan ataupun yang biasa ditampilkan. Keadaan ini dirasakan sebagai perasaan yang tidak nyaman bagi si pemain. Akibatnya, pemain cenderung melakukan tendangan sesegera mungkin sehingga perasaan tidak nyaman tersebut berkurang atau hilang. Sayangnya, dalam keadaan ini pemain lebih mengutamakan kecepatan performa ketimbang ketepatan.Itulah mengapa pemain yang menunjukkan response time rendah memiliki persentase kesuksesan yang lebih rendah.

Status pemain. Ketika mendengar nama-nama pemain sepakbola besar seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Zinedine Zidane, Kaka, dan lain-lain, apa dugaan Anda mengenai tingkat keberhasilan mereka dalam mengeksekusi tendangan penalti? Mungkin sebagian besar dari Anda berpikir bahwa mereka, dengan segudang penghargaan, akan selalu sukses mencetak gol dari titik putih. Tahukah Anda, kenyataannya malah berbeda sama sekali. Pemain-pemain bintang (yang dilihat berdasarkan penghargaan yang telah diraih ketika mereka terlibat adu penalti) menunjukkan persentase kesuksesan yang lebih rendah (65,0%) daripada pemain-pemain yang ‘belum’ menjadi bintang (88,9%)(Jordet, 2009).Tidak percaya? Mari kita flashback sedikit.Messi yang sudah 5 kali menjadi Pemain Terbaik Dunia gagal mengeksekusi penalti di partai final Copa America 2016 lalu. Di final Liga Champion Eropa 2009, Cristiano Ronaldo yang merupakan FIFA Player of The Year 2008 gagal mengeksekusi penaltinya. Empat tahun sebelumnya, Andriy Shevchencko (peraih penghargaan Pesepakbola Terbaik Eropa 2004) gagal menembus gawang Liverpool, juga di final Liga Champions Eropa. Lebih ke belakang lagi, Roberto Baggio yang memenangi penghargaan sebagai FIFA Player of The Year 1993 menjadi pemain yang ‘menggagalkan’ usaha Italia menjadi juara dunia 1994.

Empat hal yang telah diungkapkan di atas tadi hanya sebagian kecil dari banyak temuan mengenai faktor-faktor yang menentukan kesuksesan dalam adu penalti, karena keterbatasan ruang dan tempat, tidak semua bisa dipaparkan di sini. Setidaknya, temuan-temuan ilmiah telah membuktikan bahwa ketika membicarakan tentang adu penalti tidak selamanya harus dihubungkan dengan keberuntungan. Setidaknya, para pemain sekarang bisa mulai yakin bahwa mereka sendirilah yang menentukan nasibnya sendiri: menjadi juara atau menjadi pecundang.

Referensi:

Jordet, G. (2009): When Superstars Flop: Public Status and Choking Under Pressure in International Soccer Penalty Shootouts. Journal of Applied Sport Psychology, 21:2, 125-130.

 

Jordet, G., Hartman, E., Visscher, C., & Lemmink, K. (2007) Kicks from the penalty mark in soccer: The roles of stress, skill, and fatigue for kick outcomes. Journal of Sports Sciences, 25:2, 121-129.