ISSN 2477-1686

Vol.2. No.15, Agustus 2016

 

Pentingnya Bekerjasama dengan Pasangan

 

Sarita Candra Merida

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

 

Rumah Tangga

Menjalankan bahtera rumah tangga diibaratkan seperti menjalankan sebuah kendaraan bersama. Ada yang berperan menjadi pengemudi, ada yang berperan sebagai navigator atau penunjuk jalan dan ada kalanya nanti kita juga akan berperan sebagai penumpang. Artinya, ada pembagian peran yang diperlukan untuk menjalankan sebuah rumah tangga. Pertanyaan selanjutnya disini adalah:

“siapa yang melakukan apa ?”

“bagaimana pandangan secara budaya?”

“apa yang seharusnya dilakukan laki-laki dan apa yang seharusnya dilakukan oleh perempuan?“

“bagaimana pembagian tugas yang diperbolehkan secara budaya?”

Sebelum kita membahas lebih lanjut, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu antara perbedaan seks dan gender. Artinya siapa itu laki-laki?, siapa itu perempuan?, dan apa yang membedakan peran laki-laki dan perempuan?.

Seks disini menunjukkan perbedaan biologis dan fisiologis antara pria dan perempuan. Seks disini tidak hanya sekedar perbedaan biologis dan fisiologis tetapi juga perannya secara seksual yaitu perilaku dan pola aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Berdasarkan peran tersebut sehingga muncul tingkat kesadaran dan pengukuran terhadap jenis kelamin dan peran jenis kelamin. (Sarwono, 2014). Berbeda dengan gender, menurut Sarwono (2014) gender adalah perilaku dan pola aktivitas yang dianggap layak oleh suatu masyarakat atau yang dapat diterima secara budaya untuk laki-laki dan perempuan. Sesuai dengan perilaku dan pola aktivitas tersebut muncul yang dinamakan peran gender, dimana seorang laki-laki dan perempuan akan mengadopsi perilaku dan pola aktivitas spesifik yang dianggap layak atau yang sudah digariskan oleh budaya tersebut. Melalui perilaku dan pola aktivitas tersebut, sehingga seorang laki-laki dan perempuan akan mengadopsi peran gendernya.

 

Pekerjaan Rumah Tangga

Berdasarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan tersebut baik secara seks maupun gender muncul pertanyaan di masyarakat seiring dengan fenomena yang berkembang saat ini :

“Bagaimana ketika seorang istri turut bekerja di luar rumah membantu suami?”

 

Menurut salah satu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di salah satu Talkshow yang bertajuk “Wanita dan Kemiskinan” mengatakan bahwa wanita harus banyak berperan dalam sektor angkatan kerja untuk membantu taraf hidup ekonomi dirinya dan keluarganya. Di samping itu ketika seorang wanita bekerja akan meningkatkan harga diri seorang wanita sehingga mendorong dirinya untuk memiliki kebebasan bertindak.

Menurut pandangan Abraham Maslow dalam Alwisol (2009) dikaitkan dengan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat seorang wanita yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan fisik seperti makan, minum dan pemenuhan gizi dalam keluarga. Selain memenuhi kebutuhan fisik juga untuk memenuhi kebutuhan rasa aman yaitu bebas dari rasa takut dan cemas akan kekurangan akan pemenuhan kebutuhan keluarga. Mengingat bertambahnya peran seorang wanita terjadilah pergeseran peran gender yang sebelumnya berkembang di masyarakat yaitu ketika seorang wanita seharusnya bekerja di rumah dan mengurus segala urusan rumah tangga. Seiring terjadinya pergeseran peran tersebut siklus dan pola dalam menjalankan rumah tangga pun turut berubah.

            Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah :

“Lalu siapa nantinya yang akan mengerjakan pekerjaan rumah tangga?”

          “Bagaimana ketika seorang suami membantu melakukan pekerjaan rumah tangga? Seperti menyapu, mengepel, memasak                atau aktivitas yang lain”

“Siapa yang akan mengurus anak disini ? Suami atau istri ?”

 

Mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci baju, mencuci piring, mengepel, apalagi memasak secara budaya jika dilihat dari peran gender itu adalah pekerjaan perempuan. Hal itu terkait dengan stereotipe gender yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang diajarkan oleh orangtua dan masyarakat sekeliling. Ciri psikologik atau perilaku yang diasosiasikan dengan laki-laki atau perempuan. Jika ditinjau dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Supriyantini (2002) suami yang memiliki pandangan positif terhadap peran gender yang positif dalam artian memiliki pandangan bahwa menyadari peran seorang istri yang berkaitan dengan pengembangan karirnya di rumah terdapat mereka akan berusaha terlibat dalam tugas rumah tangga untuk meringankan beban seorang istri. Hal tersebut mendukung hasil penelitian berikutnya oleh Supriyantini (2002) bahwa keterlibatan suami dalam kegiatan rumah tangga lebih tinggi pada istri yang bekerja daripada tidak bekerja. Suami yang memiliki peran positif terhadap gender akan menyadari pentingnya pembagian kerja dalam suatu rumah tangga, dan pentingnya menjaga hubungan antar pribadi.

 

Bekerjasama dengan Pasangan 

Pada dasarnya bagaimanapun kondisinya, dalam menyelesaikan suatu pekerjaan rumah tangga tetap dibutuhkan suatu kerjasama. Seperti yang dikutip pada artikel ayahbunda lebih indah berbagi tugas rumah tangga bersama dengan pasangan. Salah satunya dengan mengkomunikasikan bersama pasangan mengenai tugas dan tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hal itu bisa dilakukan dengan cara saling berbagi tugas dengan pasangan serta menelaah tugas yang dikerjakan untuk disepakati dengan pasangan.

 

Referensi:

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press.

 

Ayahbunda. (2016). Indahnya Berbagi Tugas Rumah Tangga. Diambil dari www.ayahbunda.co.id tanggal 22 Juli 2016.

 

Sarwono, SW. (2014). Psikologi Lintas Budaya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

 

Supriyantini, S. (2002). Hubungan Antara Pandangan Peran Gender Dengan Keterlibatan Suami dalam Kegiatan Rumah Tangga. Diambil dari library.usu.ac.id tanggal 22 Juli 2016.