ISSN 2477-1686

Vol.2. No.15, Agustus 2016

 

Anak Berbakat Kok Prestasinya Rendah?

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Ciri-ciri Anak Berbakat Kurang Berprestasi

Anak berbakat merupakan anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luarbiasa. Renzulli dalam Munandar (2002) menyebutkan bahwa anak berbakat dicirikan dari kecerdasan umum, tingkat tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas dan tingkat kreativitas yang tinggi. Dengan kemampuannya tersebut, anak berbakat diharapkan mencapai prestasi yang unggul di sekolah dan kelak menjadi orang yang dapat memberi sumbangan bermakna untuk kesejahteraan Bangsa. Sayangnya, tidak semua anak berbakat dapat berprestasi setara dengan potensinya. Cukup banyak diantara mereka yang underachiever yaitu anak berbakat yang prestasinya rendah atau di bawah taraf kemampuannya. Semiawan (2009) menyatakan bahwa anak yang mengalami underachievement memiliki ciri-ciri sebagai berikut; sikap yang pada umumnya tidak memperlihatkan kematangan, sikap negatif terhadap keadaan sekolah, sikap dan kebiasaan belajar yang kurang baik, rendah diri (inferior), sikap defensif, cenderung menyalahkan orang lain, rasa harga diri rendah yang terlihat dalam perilaku yang tidak produktif, bahkan mengarah pada proses belajar yang tergantung pada oang lain.            

Dua Sisi Anak Berbakat Kurang Berprestasi

Menurut Semiawan (2009), masalah underachievement memiliki dua sisi, yang sering dialami anak berbakat adalah underachievement dalam arti sebenarnya. Rim dalam Munandar (1999) menjelaskan tiga karakteristik anak berbakat underachievement, yaitu karakteristik primer adalah rasa harga diri yang rendah (low self esteem), berkaitan dengan kurangnya kemampuan untuk mengendalikan pribadinya sendiri. Jika gagal pada suatu tugas, mereka beralasan karena kemampuannya kurang dan jika berhasil mereka beralasan karena beruntung. Rasa harga diri yang rendah ini menyebabkan karakteristik  sekunder yaitu perilaku menghindari bidang akademik (academic avoidance behaviour) seperti menunjukkan tidak adanya minat belajar, yang pada gilirannya menghasilkan karakteristik tersier yang nyata, seperti kebiasaan belajar buruk, keterampilan yang tidak dikuasai dan masalah disiplin. Pada sisi yang lain, Semiawan (2009) menanambahkan tentang anak berbakat kurang berprestasi yang bersifat superachievement, yakni tekanan-tekanan yang dialami anak berbakat untuk menjadi sempurna, keinginan untuk menjadi luar biasa serta kepedulian untuk dikagumi oleh teman sebaya karena penampilannya, demi memperoleh popularitas. Ciri-ciri yang dialami anak berbakat superachievement inilah yang kerap membuatnya stress karena tekanan-tekanan untuk selalu menjadi sempurna serta pujian yang terlalu sering sehingga membuat mereka tertekan untuk mencapai hasil dan merasa sulit maju kalau tidak dipuji.

Mengatasi Anak Berbakat Kurang Berprestasi

Rim dalam Semiawan (1997) menjelaskan enam langkah dalam mengatasi anak berbakat kurang berprestasi, antara lain:

1.  Assesmen, assesmen tentang keterampilan kemampuan dan tipe prestasi belajar kurang. Langkah ini harus dilakukan dalam kerjasama dengan psikolog sekolah, guru anak berbakat, konselor dan orang tua.

2.  Komunikasi, antara orang tua dan guru yang merupakan komponen penting untuk meremedial prestasi belajar yang kurang.

3.  Mengubah Harapan, kompetisi antar anak sering menjadi sebab utama dari sindrom prestasi belajar kurang sehingga perubahan harapan terhadap kemajuan anak harus dikomunikasikan.

4.  Model identifikasi peran, mengidentifikasi diri dengan seseorang yang telah mencapai keberhasilan prestasi belajar merupakan obat mujarab dalam mengatasi underachievement. Guru atau orang yang berhasil dalam kariernya dapat menjadi model seperti itu dan dapat diundang ke sekolah untuk berbagi cerita hidupnya.

5.  Koreksi penyimpangan, mengoreksi penyimpangan keterampilan anak yang berprestasi belajar kurang hampir selalu memiliki penyimpangan keterampilan sebagai hasil kurang perhatiannya di kelas, cara belajar yang salah dan unjuk kerja yang kurang. Cara ini bisa dengan tutoring, yang sebaiknya bukan dilakukan oleh orang tua, melainkan oleh seorang dewasa yang sangat dekat pada anak, dalam arti tutor tidak membantu bila tak perlu dan anak belajar menyadari hubungan antara upaya dan hasil prestasi belajar.

6.  Modifikasi kekuatan pengulangan (reinforcement), yakni dengan cara melakukan pengulangan belajar di sekolah dan di rumah. Misalnya dengan adanya tambahan les belajar. 

 

Referensi:

Munandar, Utami. (1999). Kreativitas dan keberbakatan: Strategi mewujudkan potensi kreatif dan bakat.  Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Semiawan, Conny. (2009). Kreativitas keberbakatan: Mengapa, apa dan bagaimana?. Jakarta: PT. Indeks. 

Semiawan, Conny. (1997). Perspektif pendiikan anak berbakat.  Jakarta: PT. Grasindo.