ISSN 2477-1686

Vol.2. No.14, Juli 2016

Five-Week Parenting Program to Change Negative Strong-Willed Child Behavior

Sarah Rachmawati

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara

Anak-anak pada umumnya hidup dibawah perlindungan dan pengawasan keluarga terutama orang tua. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal anak dimana orang tua menjadi role models yang sangat berpengaruh pada perkembangan sikap dan nilai-nilai pada anak. Hal yang sangat penting dalam pengasuhan adalah menerapkan pola asuh yang sesuai dengan karakter dan tahap perkembangan anak (Krause dan Dailey, 2009) . Pola asuh berfungsi sebagai penguatan yang dilakukan orang tua untuk membentuk karakter dan kepribadian anak. Orang tua memegang kontrol atas kemungkinan perilaku positif maupun negatif pada anak. Pola asuh akan bekerja sebagai pengontrol untuk mengarahkan anak kepada perilaku-perilaku positif (Bronstein, 2002).

Karakter Strong Willed Behavior

Anak-anak dengan karakter strong willed behavior membutuhkan pola asuh yang tepat untuk mengontrol perilaku negatif yang dimiliki dan mengembangkan perilaku positif sebagai bekal dalam menjalani hidup nantinya. Strong willed behavior mempunyai dua sisi karakter yaitu positif dan negatif. Strong willed behavior adalah kemauan yang keras dan mandiri pada anak. Positive strong willed behaviour adalah kemampuan anak untuk mandiri dalam menghadapi tantangan hidupnya. Anak dengan positive strong willed behavior adalah anak dengan perilaku asertif, selalu merasa yakin dengan dirinya sendiri, dapat mengambil keputusan dan gigih. Negative strong willed behavior adalah anak yang mempunyai kemauan terlalu keras. Kemauan keras tersebut sering muncul dan tidak dapat dikontrol sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang keras kepala, suka memperdebatkan sesuatu dan bersifat menantang (Forehand and Long, 2010).

Pada penelitian Leigh dan Milgrom (2008) terbukti bahwa anak dengan karakter strong willed behavior dapat membuat orang tua mengalami stres dalam mengasuh. Stres mengasuh meliputi kesulitan dalam melakukan peran mengasuh. Stres pengasuhan diakibatkan oleh karakter anak strong willed behavior yang keras kepala, suka menentang dan tidak teratur. Perilaku bermasalah tersebut dapat menimbulkan tekanan bagi orang tua. Ketika stres pengasuhan meningkat maka akan terjadi kualitas pengasuhan yang memburuk dan akan meningkatkan perilaku bermasalah pada anak (Krause dan Dailey, 2009).

Five Week Program

The five-week program adalah program pengasuhan yang ditujukan untuk anak dengan strong-willed behavior. Program tersebut terdiri dari lima kemampuan mengasuh yaitu attending, rewarding, ignoring, giving instruction dan time out. Lima kemampuan mengasuh tersebut dipelajari secara bertahap  dan berkesinambungan setiap minggunya. Kunci keberhasilan pelatihan ini adalah subjek dapat menguasai pelatihan kemampuan pertama sebelum berpindah pada tahap pelatihan selanjutnya. Menguasai kemampuan mengasuh tidak hanya dengan memahami secara sederhana tentang kemampuan mengasuh tersebut, tetapi tahu apa yang harus dilakukan dengan kemampuan yang sudah dipelajari. Orang tua harus selalu mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari bersama anaknya. Hal tersebut merupakan alasan mengapa kemampuan tersebut dipelajari perminggu secara bertahap. Lima program yang dilakukan dalam mengasuh anak strong willed behavior adalah:

1.    Minggu 1 : Attending

Orang tua mencoba menggambarkan perilaku yang tepat kepada anak kemudian anak akan menjalankan apa yang orang tua katakan. Orang tua memberikan suara, perintah dan pendapatnya untuk tentang perilaku positif kepada anaknya. Dibutuhkan keahlian dalam berkomunikasi dan memahami perilaku anak. Ini merupakan keahlian yang penting karena menjadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih positif antara orang tua dan anak.

2.    Minggu 2 : Rewarding

Kemampuan rewarding dirancang untuk membuat anak-anak yakin tentang hal positif yang mereka lakukan. Anak-anak akan mengetahui bahwa orang tua menyetujui perilaku positif yang dilakukan. Ketika anak melakukan hal yang positif maka anak tersebut akan diberikan penghargaan. Macam-macam reward yang dapat diberikan:

a.      Verbal rewards, penghargaan yang diberikan secara lesan oleh orang tua karena perilaku positif yang dilakukan anak. Verbal reward berwujud seperti ungkapan terima kasih dan kata-kata pujian.

b.      Physical rewards, merupakan penghargaan yang dilakukan secara fisik, seperti memeluk, mencium dan berbagai ekspresi lain yang menunjukan kehangatan dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.

c.      Activity rewards, Merupakan penghargaan yang memanfaatkan aktivitas sebagai suatu hal yang menyenangkan. Misalnya adalah aktivitas sehari-hari seperti mandi, makan dan waktu tidur. Ketiga waktu tersebut dapat dimanfaatkan orang tua dan anak untuk saling berinteraksi dan memberikan positive reinforcement pada anak. Hal ini merupakan kesempatan untuk orang tua menemukan hal positif pada anak.

d.      Nonsocial Rewards memberikan penghargaan dengan memberikan kado mainan edukatif yang menukung peningkatan perilaku yang lebih baik.

3.    Minggu 3 : Ignoring

Kemampuan ignoring dilakukan untuk mengurangi perilaku yang tidak tepat. Ignoring merupakan respon yang digunakan untuk perilaku yang tidak tepat pada anak. Hal ini akan membuat jelas anak strong willed behavior tentang perilaku negative yang tidak diinginkan oleh orang tua. Orang tua tidak mau melihat perilaku negatif yang dialakukan anaknya dengan cara mengabaikan anak seperti tidak melakukan kontak fisik, verbal maupun kontak mata.

4.    Minggu 4 : Giving Instructions

Kemampuan memberikan instruksi adalah melatih kemampuan orang tua dalam memberikan tugas ke pada anak strong willed behavior. Kemampuan ini membutuhkan keahlian dalam berkomunikasi verbal maupun non verbal. Pelatihan tersebut berisi bagaimana cara menyampaikan instruksi dengan lebih efektif agar anak memperhatikan apa yang diinstruksikan dan mengerjakannya. Instruksi yang baik adalah instruksi yang jelas dan diikuti dengan alasan mengapa anak tersebut harus melakukan hal yang diperintahkan.

5.    Week 5: Using Time-Outs

Pada tahap ini, interaksi dan hubungan positif antara orang tua dengan anak sudah terbangun. Ketika anak tidak mampu atau gagal memenuhi perilaku yang positif maka diberlakukan time outs. Time outs merupakan waktu dimana anak diletakan pada suatu tempat yang aman, tenang dan jauh dari mainan atau hiburan karena perilaku negative yang dilakukan anak. Tujuan dari diberlakukan time outs adalah untuk memberikan waktu kepada anak agar menyadari kesalahan dan perilakunya yang tidak tepat.

Referensi:

Krause, H Pacey dan Dailey, M Tahlia. 2009. Handbook Parenting: Styles, Stresses and Strategies. Nova Science Publishers. New York

Bronstein, H Marc. 2002. Handbook Parenting: Second Edition Volume 5: Practical Issues in Parenting.Lawrence Erlbaum Associates Publishers. New Jersey

Forehand, R dan Long N. 2010. Parenting the Strong-Willed Chil. The McGraw-Hill Companies. New York

Leigh, B and Milgrom, J. 2008. Risk factors for antenatal depression, postnatal depression and parenting stress. BMC Psychiatry. Page 1-11