ISSN 2477-1686

Vol.2. No.14, Juli 2016

 

Stop Kekerasan Terhadap Perempuan

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Fenomena dan Data Kasus Kekerasan pada Perempuan

Kasus kekerasan yang terjadi pada anak dan perempuan semakin ramai terjadi di Indonesia bahkan sampai dikeluarkannya SK Presiden RI mengenai hukuman kebiri bagi para pelaku kekerasan seksual. Miris memang, mengingat  berbagai berita menyebutkan bahwa Indonesia darurat kekerasan terhadap perempuan. Salah satu kasus yang belum lama terjadi adalah kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap YY, seorang siswi SMP di Bengkulu yang mengemuka, lantas timbul kekhawatiran bahwa Indonesia sebenarnya memiliki jumlah kasus kekerasan yang sangat tinggi.

Berdasarkan catatan kasus yang diperoleh dari lembar fakta catatan tahunan (Catahu) Komnas Perempuan 2016 menyebutkan Jumlah kasus KTP (Kekerasan Terhadap Perempuan) 2015 sebesar 321.752, bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama atau Badan Peradilan Agama (PA-BADILAG) sejumlah 305.535 kasus, dan dari lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 16.217 kasus; Berdasarkan jumlah kasus sebesar 321.752 tersebut, jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol kekerasan yang terjadi di ranah personal. Sejumlah 305.535 kasus berasal dari data unduh PA-BADILAG dicatat dalam kekerasan yang terjadi di ranah KDRT/RP. Sementara dari 16.217 kasus yang masuk dari lembaga layanan mitra Komnas Perempuan, kekerasan yang terjadi di ranah KDRT/RP tercatat 69% atau 11.207 kasus, 60% atau 6.725 kasus berupa kekerasan terhadap istri, 24% atau 2.734 kasus kekerasan dalam pacaran, dan 8% atau 930 kasus kekerasan terhadap anak perempuan. KTP dalam ranah KDRT, kekerasan fisik menempati peringkat pertama dengan persentase 38% atau 4.304 kasus, diikuti dengan kekerasan seksual 30% atau 3.325 kasus, kekerasan psikis 23% atau 2.607, dan ekonomi 9% atau 971 kasus. (http://www.komnasperempuan.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Lembar-Fakta-Catatan-Tahunan-_CATAHU_-Komnas-Perempuan-2016.pdf, diunduh 06 Juli 2016) Mengacu pada data di atas, persoalan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia dengan beragam kasusnya merupakan persoalan yang sangat miris sekaligus sangat penting untuk dicermati oleh berbagai pihak.

Perempuan yang notabene kekuatannya tidak sekuat laki-laki seringkali dijadikan sasaran kekerasan oleh para pelaku yang keji dan tidak bertanggung jawab. Hal ini seringkali menimbulkan rasa trauma dan luka yang sangat mendalam bagi para perempuan yang menjadi korbannya, sehingga membutuhkan penanganan yang serius untuk dapat memulihkan kondisi jiwanya yang terenggut karena kekerasan yang dialaminya. Secara pribadi, saya pernah menangani seorang perempuan yang tiba-tiba masuk ke sebuah acara yang saya ada didalamnya. Perempuan ini terlihat kurang bersih, tidak dapat banyak bicara dan kebingungan dan karena tak ada seorangpun yang mengenalnya, akhirnya kami mengajaknya ngobrol. Rupanya perempuan ini adalah seorang TKI asal NTT yang kabur untuk menyelamatkan diri karena kekerasan yang dialaminya.  Karena tak punya sanak saudara, akhirnya saya dengan rela hati menampungnya bermalam dirumah sambil membantunya mengurus tiket pulang kampung untuk kembali kepada keluarganya di NTT, dan betapa mirisnya hati saya saat malam itu saya mengkonseling perempuan ini. Dia menunjukkan luka-luka di sekitar tubuhnya, seperti luka bakar dikakinya sehingga dia harus berjalan seperti orang pincang karena menahan rasa sakit itu, belum lagi luka-luka disekitar tangan seperti bekas sundutan rokok dan rambut yang kaku karena dipotong asal-asalan. Dia menceritakan semua yang dia alami sambil menangis dan gaya bicaranya gugup seperti orang ketakutan. Beberapa hari kemudian, akhirnya saya mengantarnya ke sebuah pelabuhan unuk pulang kampung.

Keberadaan Perempuan Bukan Sebagai Objek Kekerasan

Mari nyalakan rasa empati kita sejenak. Saya sangat yakin bahwa keberadaan perempuan adalah sebuah kemuliaan yang tak ternilai. Indonesia memiliki satu hari yang dinamainya hari Ibu dan meskipun laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melegkapi, perempuan memiliki peran yang sangat mulia dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak dan suaminya dalam sebuah keluarga. Bukankah saat ini kita sudah berada pasa masa emansipasi yang membuat derajat perempuan lebih terangkat, sehingga pada masa kini kita dapat melihat banyak perempuan-perempuan yang mampu menghasilkan karya-karya hebat yang diakui dunia. Namun mirisnya, khususnya di Indonesia masih banyak kaum perempuan yang mengalami kekerasan, diskriminasi bahkan dijadikan hasrat pemuas seksual bagi para pelaku kekerasan seksual. Padahal, ada yang mengatakan bahwa surga ditelapak kaki ibu, bahkan banyak juga yang mengatakan bahwa dibalik kehebatan seorang lelaki, pasti ada seorang perempuan hebat yang mendampinginya. Hal ini nyata-nyata karena pada hakekatnya perempuan memiliki sifat lebih sosial. Kartono (2006) menyatakan bahwa sifat sosial perempuan terlihat saat perempuan mengalami kodrat alaminya yaitu mengandung dan melahirkan, perempuan lebih mencari objek perhatian di luar dirinya, terutama pada suami dan anak-anaknya, juga berminat pada lingkungan. Lebih lanjut, Kartono (2006) menyebutkan bahwa perempuan memiliki rasa keibuan, sehingga senantiasa terbuka hatinya bagi orang lain dan perempuan dikenal dengan sebutan “terminus terpercaya” (tempat pemberhentian akhir yang bisa dipercaya).

Semoga semakin banyak perempuan-perempuan hebat yang mampu berdiri kokoh atas nama Indonesia, semoga Indonesia semakin menghargai dan melindungi kaum perempuan dan semoga Negara maupun semua pihak yang terkait mampu membantu dan menangani kasus-kasus kekerasan yang sangat banyak diderita oleh anak dan perempuan.

Referensi:

http://www.komnasperempuan.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Lembar-Fakta-Catatan-Tahunan-_CATAHU_-Komnas-Perempuan-2016.pdf, diunduh 06 Juli 2016

Kartono, Kartini. (2006). Psikologi Wanita 1: Mengenal gadis remaja dan wanita dewasa. Bandung: CV. Mandar Maju.