ISSN 2477-1686

Vol.2. No.14, Juli 2016

Ketika Anak Melarikan Diri dari Rumah

Melok Roro Kinanthi

Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

Kasus anak ‘hilang’ kembali terjadi. Kali ini menimpa G dan S, anak perempuan berusia 12 tahun yang hilang sejak Senin, 4 Januari 2016. Meski telah ditemukan dalam kondisi selamat pada Kamis, 7 Januari 2016, hingga artikel ini ditulis pada Jumat, 8 Januari 2016, pihak kepolisian belum dapat memperoleh keterangan dari keduanya. Berdasarkan keterangan keluarga dan saksi mata (satpam perumahan setempat), dugaan sementara keduanya diindikasikan “menghilang” secara sukarela.

Hilangnya anak dari rumah dapat terjadi karena adanya unsur paksaan pihak lain atau secara sukarela dilakukan oleh yang bersangkutan. Melibatkan unsur paksaan, misalnya adalah penculikan. Sementara itu, jika terjadi secara sukarela, biasanya hal tersebut mengindikasikan anak sengaja melarikan diri atau kabur dari rumah. Pada umumnya, yang menjadi pemicu adalah permasalahan atau konflik dengan keluarga. 

Rasa Percaya terhadap Mikrosistem

Bronfenbrenner (2005), dalam teori Bioekologi yang dikembangkannya, mengemukakan perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai konteks lingkungan yang mengelilinginya, mulai dari yang terdekat atau yang dinamakan mikrosistem, mesosistem, eksosistem,hingga  yang terjauh atau makrosistem. Berdasarkan berbagai konteks lingkungan tersebut, mikrosistem memberikan peran yang paling signifikan bagi perkembangan anak.

Keluarga dan lingkungan sekitar anak (sekolah, tetangga) dapat dikategorikan ke dalam mikrosistem anak. Mikrosistem tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi kehidupan dan perkembangan anak. Dalam kehidupan sehari-hari, sejak ia dilahirkan, anak berinteraksi secara intensif dengan mikrosistemnya.  Mikrosistem tak hanya menyediakan pemenuhan kebutuhan dan ketrampilan fisik saja, namun juga pemenuhan dan ketrampilan psikologis, termasuk di dalamnya adalah mengembangkan rasa percaya pada mikrosistemnya.

Dalam kasus anak yang melarikan diri dari rumah secara sukarela, jika dilihat lebih dalam, maka sebenarnya permasalahan atau konflik keluarga merupakan faktor pemicu yang hanya bersifat permukaan saja, yang terjadi sesungguhnya adalah adanya ketidakmampuan anak dalam mengembangkan rasa percaya pada mikrosistemnya. Dapat pula dikatakan, hal tersebut merupakan bentuk kegagalan mikrosistem untuk menjadi tempat bersandar yang dipercaya oleh anak. Dalam hal ini, anak tidak percaya terhadap fungsi mikrosistem sebagai penyedia kebutuhan (khususnya) psikologis, seperti kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan untuk dihargai, atau kebutuhan untuk mendapatkan relasi yang hangat dengan orang-orang di sekitarnya. Anak juga tidak memercayai mikrosistemnya sebagai problem solver yang dapat menyediakan solusi dari permasalahan yang dialaminya atau sebagai sumber informasi –tempat bertanya dari berbagai rasa ingin tahunya- yang dapat diandalkan. Ketidakpercayaan tersebut pada akhirnya membuat anak gamang dan memilih untuk mencari pihak lain yang dapat ia percaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang tidak ia dapatkan dari mikrosistemnya.

Perlu Ditumbuhkan dan Dipupuk

Rasa percaya yang dimiliki oleh anak kepada mikrosistemnya tidak muncul secara tiba-tiba. Rasa percaya perlu dipupuk secara berkesinambungan melalui interaksi demi interaksi antara anak dengan mikrosistemnya. Mikrosistem dapat menumbuhkan rasa percaya dalam diri anak sejak mereka masih bayi. Merujuk pada teori perkembangan psikososial Erikson, pada bayi, bagaimana rasa percaya dapat berkembang tergantung pada seberapa baik keluarga, khususnya orang tua selaku  caregiver utama, memenuhi kebutuhan dasar-fisiologis pada individu yang masih sangat dependen tersebut. Sebagai contoh, ketika bayi menangis karena haus, caregiver yang tidak responsif (secara berulang-ulang) akan menanamkan kesan pada bayi bahwa mereka tidak cukup layak untuk diandalkan di masa depan saat ia membutuhkan pertolongan. Terkait dengan hal tersebut, Fusaro dkk (2011) mengemukakan anak menerapkan prinsip behavior-matching dalam memprediksi perilaku orang lain di masa depan, yakni dengan berkaca pada perilaku orang tersebut di masa lalu dan mengkaitkannya dengan potensi konsistensi di kemudian hari. Dengan demikian, ketika anak mempelajari bahwa di masa lalu mikrosistemnya tidak mampu memenuhi kebutuhan psikologis atau menawarkan solusi yang efektif dan nyaman untuk permasalahan yang ia hadapi, maka ia menduga bahwa berbagai hal tersebut akan berulang kembali di masa depan. Dalam hal ini, rasa percayapada mikrosistem tidak terbentuk dan karenanya ia lantas mencarinya di tempat lain

Tanggung Jawab Semua

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengembangkan rasa percaya anak pada mikrosistem adalah melalui keteladanan, penanaman dan konsistensi penerapan nilai moral, serta dengan pola asuh dan pola interaksi yang baik. Mengingat komponen mikrosistem anak bukan hanya keluarga, namun juga lingkungan masyarakat sekitar dan sekolah, maka sudah seharusnya tugas tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Interaksi dan relasi yang kuat diantara ketiga komponen tersebut perlu dikembangkan, dimana mereka dapat saling melengkapi dan bersama-sama membimbing serta mendampingi anak hingga dewasa. Dengan demikian, ketika anak sedang berkonflik atau merasa tidak puas terhadap salah satu komponen mikrosistemnya, maka ia dapat ‘melarikan diri’ sejenak pada komponen mikrosistem lainnya -yang tentu saja dapat dipercaya, untuk selanjutnya berbagai komponen tersebut bersama-sama mencari solusi yang tepat untuk anak.

Referensi

Bronfenbrenner, U. (2005). Making Human Being Human: Bioecological Perspective on Human Development. California: Sage Publications, Inc.