ISSN 2477-1686

Vol.2. No.13, Juli 2016

Nyala Untuk Empati

Melok Roro Kinanthi

Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

 

Masyarakat tersentak tatkala Y, seorang pelajar SMP berusia 14 tahun di pelosok Bengkulu, diperkosa beramai-ramai oleh 14 pemuda hingga meninggal dunia. Aksi keprihatinan, pengecaman, maupun tuntutan agar pelaku dihukum berat dilakukan berbagai pihak sebagai bentuk empati terhadap Y. Meski demikian, tanpa bermaksud mengecilkan beragam upaya itu, agaknya empati “datang terlambat”, justru karena kurangnya empatilah maka peristiwa mengerikan tersebut dapat terjadi.

Empati

Empati merupakan ketrampilan untuk memahami perspektif, kondisi, dan perasaan orang lain, seolah-olah kita adalah orang tersebut (Rogers, 1957; Eisenberg dkk, 2006). Kurang atau tidak adanya empati merupakan awal dari timbulnya beragam perilaku destruktif yang merugikan pihak lain. Peristiwa tragis yang menimpa Y diatas, juga kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak lainnya, tidak perlu terjadi manakala berbagai elemen bangsa dapat berempati terhadap kondisi sosial di lingkungannya.

Merujuk pada pemberitaan media massa (Sabtu, 7 Mei 2016), Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkulu mengemukakan,di samping miskin dan rawan kejahatan, kampung halaman Y di Padang Uliak, Rejang Lebong, Bengkulu, juga termasuk daerah dengan Indeks Pembangunan Manusia yang rendah, ditandai dengan minimnya tingkat pendidikan masyarakat serta belum memadainya sarana dan prasarana yang ada seperti jaringan listrik, infrastruktur jalan, serta pusat kesehatan. Berdasar deskripsi yang menggambarkan kondisi daerah tersebut, dengan kemampuan berempati yang baik, seharusnya kita bisa membayangkan, turut merasakan, dan pada akhirnya memahami seperti apa kondisi sosial – psikologis masyarakat setempat, khususnya kaum muda. Adanya pemahaman tersebut memungkinkan kita memprediksi  apa yang mungkin akan dilakukan oleh masyarakat setempat dengan kondisi lingkungan  maupun sumber daya diri yang serba terbatas tersebut. Sesungguhnya, jika mencermati dan memahami dengan baik keadaan lingkungan dan masyarakat di kampung halaman Y, maka kita menyadari bahwa perilaku kriminal, termasuk kekerasan terhadap perempuan, berpotensi besar terjadi di daerah ini. Berangkat dari adanya kesadaran akan kondisi sosial daerah tersebut, maka dapat dilakukan berbagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya perilaku destruktif. Upaya pemberdayaan masyarakat setempat, khususnya kaum muda, juga dapat diupayakan. Pemerintah daerah, pendidik, tetua masyarakat dapat duduk bersama merumuskan suatu kebijakan, yang dikembangkan dari adanya empati, yang dapat mendukung tercapainya tujuan positif tersebut.

Empati Pelaku

Pihak yang seharusnya juga memiliki empati sehingga kasus ini tidak perlu terjadi adalah pelaku itu sendiri. Kegagalan pelaku dalam merasakan dan memahami bagaimana penderitaan korban paska dilakukannya kekerasan seksual, membuat tindak kejahatan ini harus terjadi. Menilik usia pelaku, dan mengingat bahwa empati sudah dapat dikembangkan sejak kanak-kanak, maka timbul pertanyaan apa yang membuat mereka gagal berempati? Kegagalan berempati tersebut bisa saja terjadi karena pengasuhan yang keliru atau pembelajaran dari lingkungan sekitar yang kerap mempertunjukkan perilaku-perilaku tidak empatik. Kembali pada pemaparan di bagian awal tulisan ini, Indeks Pembangunan Manusia yang rendah pada daerah setempat memungkinkan terjadinya pola pengasuhan yang keliru dan pembelajaran sosial yang salah akibat kualitas sumber daya manusia yang tidak memadai.

Empati terhadap Korban

Hal lain yang juga menjadi perhatian berbagai pihak dalam kasus Y adalah tentang hukuman yang dijatuhkan pada pelaku kekerasan (seksual) terhadap perempuan dan anak. Empati terhadap korban dapat membantu perumus kebijakan atau pihak yang berwenang untuk menetapkan hukuman yang sesuai. Dalam menetapkan hal tersebut, perumus kebijakan dapat mempertimbangkan penderitaan psikologis dan fisik yang dialami korban, termasuk bagaimana penderitaan ini dapat berpengaruh terhadap kemampuan korban dalam menjalani kehidupan di masa datang. Selain itu, empati terhadap korban memungkinkan para perumus kebijakan atau pihak yang berwenang untuk merancang suatu program terkait rehabilitasi korban paska terjadinya kekerasan seksual.

Peran Aktif

Bronfenbrenner (2005) mengemukakan perkembangan individu tak luput dari peran beragam lingkungan yang mengelilinginya, mulai dari mikrosistem, mesosistem, eksosistem, maupun makrosistem. Ini artinya tanggung jawab pencegahan tindak kekerasan seksual bukan hanya menjadi tugas orang-orang di sekeliling korban maupun pelaku, namun juga pihak-pihak lain yang sepintas tak berhubungan langsung dengan mereka. Empati perlu dikembangkan oleh berbagai pihak tersebut agar masing-masing dapat lebih menyadari dan memahami secara mendalam kondisi lingkungan sosial di sekitarnya. Dengan pemahaman yang baik dan utuhakan lingkungan, kita dapat mengantisipasi hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Referensi:

Bronfenbrenner, U. (2005). Making Human Being Human: Bioecological Perspective on Human Development. California: Sage Publications, Inc.