ISSN 2477-1686

Vol.2. No.13, Juli 2016

Semakin Religius Semakin Sejahterakah?

Andy Saputra

Yonathan Aditya Goei

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Religiusitas dan Kesejahteraan Hidup

Badan Pusat Statistik Sensus Penduduk Indonesia pada tahun 2010 menemukan bahwa hampir seluruh penduduk Indonesia memiliki agama. Hal tersebut merupakan salah satu indikator yang menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia religius. Hal ini juga didukung oleh sila pertama dalam dasar negara Indonesia yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, namun apakah hal tersebut membuat hidup masyarakat lebih sejahtera?

Beberapa peneliti menemukan bahwa individu yang religius memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dan cenderung lebih bahagia (Diener, Suh, Lucas, & Smith, 1999; Cohen & Johnson, 2011; Saputra, Aditya, Lanawati, 2015). Hal tersebut dapat dijelaskan karena religiusitas mempengaruhi berbagai aspek dalam individu misalnya terhadap cara berpikir. Mereka yang religius cenderung memandang hidup dengan lebih positif. Orang yang memandang hidup secara positif tentu akan lebih dapat bersyukur dan puas, sehingga lebih berbahagia.

Walaupun demikian, tidak semua studi menemukan bahwa religiusitas berdampak positif terhadap kesejahteraan hidup manusia, misalnya ndividu yang mengalami suatu masalah dapat merasa dihukum oleh sosok ilahi yang dipercayainya dan akibatnya dapat menjadi marah kepada sosok Ilahi tersebut (Koenig, 2005; Ramirez-Johnson, Fayard, Garberoglio, & Ramirez, 2002). Orang yang merasa marah akan melihat situasi secara negatif dan tidak objektif yang cenderung membuat dirinya sulit menemukan solusi atas situasi, dengan demikian tingkat kesejahteraan orang tersebut juga menurun.

Langkah Meningkatkan Kesejahteraan Hidup Melalui Religiusitas

Dengan adanya hasil yang kontradiktif ini, hal yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana menerapkan langkah yang tepat agar religiusitas ini dapat meningkatkan kesejahteraan hidup? Hasil penelitian yang dilakukan oleh Andy, Aditya, dan Lanawati (2015) menemukan bahwa tidak semua jenis religiusitas yang diukur dengan Four Basic Dimensions of Religiosity (Saroglou, 2011) berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan. Hanya aspek kepercayaan religius (believing) dan kebersamaan dalam kelompok religius (belonging) yang berpengaruh terhadap kesejahteraan.Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis mengusulkan beberapa hal dibawah ini.

1.   Menghayati Agama dengan Benar

Salah satunya adalah dengan menghayati agama masing-masing dengan benar, bukan karena terpaksa atau takut akan hukuman. Pengetahuan yang tepat tentang agama masing-masing sangatlah penting, sehingga tidak menelan informasi secara mentah yang dapat membuat pandangan yang malah menjerumuskan.seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, individu dengan informasi yang terbatas dapat melihat situasi yang sulit sebagai hukuman dan menurunkan motivasi individu terhadap hidupnya, sehingga sangat penting memiliki pengetahuan terhadap agama dengan tepat.

2.   Mengikuti Kelompok Religius Yang Saling Mendukung

Langkah yang lain adalah mengikuti kelompok religius yang saling mendukung, menguatkan dan memiliki pandangan yang tepat. Hal tersebut akan membantu individu untuk membangun relasi yang positif. Dengan demikian ketika menjalani masa-masa sulit, individu tersebut akan lebih tenang dan tetap memandang hidup secara positif. Kelompok religius juga akan meningkatkan motivasi individu untuk lebih terlibat secara positif seperti ikut serta dalam membantu dan mendukung anggota kelompok. Hal ini dapat membantu individu untuk memiliki pandangan bahwa hidupnya sangat bermanfaat bagi orang lain, sehingga individu akan lebih puas terhadap hidupnya.

3.   Kematangan Psikologis

Religiusitas juga ditemukan bermanfaat untuk individu yang memiliki kematangan psikologis, sehingga perlu untuk melakukan refleksi dan introspeksi tentang diri sendiri untuk meningkatkan kesadaran dan juga kematangan psikologis, sehingga individu dapat menjalin relasi dengan sosok Ilahi yang diimani dengan dewasa dan tidak bersifat transaksional. Hal tersebut adalah karena hubungan yang bersifat transaksional hanya akan bermanfaat jika hasil dari hubungan tersebut positif dan hanya bersifat sementara. Apabila individu dilanda kegagalan, maka individu akan cenderung menyalahkan dan memandang situasi secara negatif dibandingkan jika individu lebih matang secara psikologis tidak akan hanya fokus terhadap hasil saja, tetapi juga hubungan yang kuat terhadap sosok ilahi yang mendorongnya untuk tetap bersyukur dan berpikiran positif.

Secara sekilas, religiusitas dapat berdampak positif maupun negatif, tergantung dari pandangan individu terhadap religiusitasnya. Pengetahuan yang tepat, mengikuti kelompok religius yang saling mendukung, dan meningkatkan kematangan diri menjadi langkah yang penting untuk diterapkan agar religiusitas dapat mensejahterahkan hidup.

 

Referensi:

Cohen, A. B. & Johnson, K. A (2011). Religion and Well-being. Naskah dipresentasikan pada         Yale Center for Faith and Culture consultation of Happiness and Human Flourishing    pada          tanggal 9 Desember 2011.  Arizona State University. Diunduh dari         http://faith.yale.edu/sites/default/files/cohen_and_johnson_0.pdf

Diener, E., Suh, E. M., Lucas, R. E., & Smith, H. L. (1999). Subjective well- being: three decades of        progress.Psychological Bulletin, 125(2), 276—302. Diunduh dari http://cinik.free.fr/chlo/doc%20dans%20biblio,%20non%20imprim%C3%A9s/subjective%2      0well%20being.pdf

 

Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut. (2010). Badan Pusat Statistik: Sensus    Penduduk. Diunduh dari http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321

 

Saputra, A., Aditya, Y., & Lanawati, S. (2015). The effects of religiosity on the well-being of     college students. Naskah dipresentasikan pada International Conference Psychology,      Psychological Transformation Towards Developing Characterized Human Being pada tanggal 16 Oktober 2015 di Semarang, Indonesia.

 

Saroglou, V. (2011). Believing, Bonding, Behaving, and Belonging: The Big Four Religious Dimensions and Cultural Variation. Journal Of Cross-Cultural Psychology, 42(8), 1320-1340. doi:10.1177/0022022111412267