ISSN 2477-1686

Vol.2. No.13, Juli 2016

Merasa Nyaman Dengan Bermusik

Sarah Rachmawati

Fakultas Psikologi,Universitas Bhayangkara

 

Ketika kita sedang berkendara di tengah kemacetan, sering kali menyalakan musik untuk mengatasi kebosanan dan ketidak nyamanan. Anda juga sering melihat banyak orang yang berada di kereta memasang earphone untuk mendengarkan musik. Bayangkan jika di dunia ini, kita tidak mengenal musik atau nada yang beraturan? Lalu mengapa Musik sangat berperan dalam kehidupan manusia? Apakah yang terjadi dalam diri manusia sehingga merasa nyaman setelah mendengarkan musik?

Musik Dan Fungsi Otak

Menurut Parncutt dan McPherson (2002) bermain musik menggerakan proses fungsi tubuh dan otak. Krout (2007), yang menjelaskan lebih detail mengenai pengaruh musik terhadap emosi melalui respon fisiologis tubuh yang diikuti oleh respon biologis. Rangkaian respon biologis tersebut melingkupi kerja sistem limbik, sistem neurotransmiter, endokrin dan sistem imun tubuh. Musik yang masuk ke dalam sistem pendengaran kemudian diterima oleh sistem limbik. Sistem limbik terdiri dari amygdala, hypothalamus dan hyppocampus yang berada di atas batang otak dan mengelilingi thalamus. Sistem limbik tersebut bertanggung jawab untuk mengatur respon emosi, mempengaruhi sistem endokrin dalam melepaskan hormon, dan autonomic nervous system dalam mengatur pergerakan yang tidak direncanakan (Bangalore, 2007). Amygdala menerima informasi dari bagian temporal pada korteks baik informasi visual, auditori dan somatosensori dan bertanggung jawab untuk merespon emosi dengan cara mengirim informasi ke hypothalamus dan bagian otak lain. Kemudian hypothalamus memicu terjadinya reaksi fisiologis yang melekat pada emosi seperti mengaktifkan syaraf simpatetik dan meneruskan pesan ke kelenjar pituitari, yaitu kelenjar yang mengendalikan pelepasan hormon ke dalam pembuluh darah. Hippocampus berperan dalam  penyimpanan memori dan berfungsi mengatur cortisol serta berperan dalam mengontrol umpan balik hypothalamic-pituitary-adrenocortical axis (HPA axis) selama individu mengalami stres. Musik memberikan pengalaman perasaan santai dan nyaman, ketika musik tersebut diperdengarkan lagi maka individu akan bereaksi emosi yang sama seperti ketika pertama kali mendengarkan musik tersebut (Evans-Martin, 2007).

Ketika tubuh menerima sinyal musikal, maka otak merespon dengan melepaskan neurotransmitter  ke dalam sistem syaraf. Tercatat ada kurang lebih 50 jenis neurotransmitter yang terangsang oleh respon musikal, beberapa diantaranya acetylcholine (Ach) yang berperan dalam aktivitas fisik, proses belajar, memori dan perilaku tidur. Neurotransmitter lainnya adalah epinephrine, norepinephrine dan dopamine yang dikenal juga sebagai neurotransmitter exitatory (perangsang), neurotransmitter tersebut kesemuanya berpengaruh dalam mengontrol terhadap tingkat ketegangan (arousal) dan dapat merangsang perasaan menyenangkan. Endorphins dan enkephalins juga termasuk pada neurotransmitter  yang bertanggung jawab pada respon musikal, kedua neurotransmitter tersebut merupakan turunan metabolisme senyawa opioids yang dikeluarkan oleh hormon peptides. Seperti kita ketahui bahwa hormon peptides dan opioids sangat bertanggung jawab dalam memunculkan perasaan menyenangkan, tenang, mengurangi rasa sakit dan stress.

Selain memproduksi neurotransmiter inhibitor dalam menanggapi stimulus musik, tubuh juga menekan produksi dari neurotransmiter disinhibitor yaitu GABBA (gamma-amino butyric acid). Musik membuat sel-sel otak menerima GABBA secara lebih banyak sehingga membuat aktivitas sel syaraf menurun dan mengakibatkan kondisi yang tenang. Setelah neurotransmitter, selanjutnya tubuh merespon musik dengan mengeluarkan beberapa jenis hormon yang mengalir mengikuti aliran darah. Hormon yang berperan dalam menekan rasa stres dan menaikkan rasa nyaman (wellness) dibagi menjadi 2 poros, yaitu HPA-axis (hypothalamus, pituitary, adrenalin) dan HPT-axis (hypothalamus, pituitary, thyroxin) (Carr, 2005). HPA-axis mengeluarkan hormon cortisol yang berperan ketika tubuh mengalami reaksi stres. Cortisol akan menaikkan tekanan darah, dan meningkatkan pelepasan kadar glukosa ke dalam darah sebagai respon dari stimulus stres tadi. Terlalu banyak hormon cortisol dalam tubuh dapat menyebabkan tubuh menjadi rentan terhadap stres dan mudah sakit. Sedangkan HPT-axis mengeluarkan hormon thyroxin yang jika diproduksi dibawah normal menyebabkan individu tersebut mudah terserang stres. Diperinci lagi, sistem hormon juga mengeluarkan hormon peptides (neuropeptides) dan hormon steroids. Hormon peptide selanjutnya mengeluarkan dua jenis senyawa turunan bernama opioids (endogenous/dari dalam tubuh) dan morphin (exogeneous/dengan bantuan zat-zat diluar tubuh), dari namanya saja sudah dapat ditebak kerja utama dari sekresi hormon tersebut yaitu berperan dalam memengaruhi perasaan menyenangkan dan relax seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi (Rubin & Pfaff, 2009).

Terakhir, kerja system imun. Musik yang memberikan efek nyaman dan tenang akan berpengaruh pada kerja sistem imun dengan  cara meningkatkan produksi sel darah putih. Musik dapat membantu memperbaiki fungsi sistem imun dengan kinerja amygdala dan hypothalamus. Musik yang sedative akan menurunkan aktivitas neuron dalam amygdala dan menimbulkan respon emosi yang tenang. Hypotalamus juga akan menurunkan stimulasi pada kelenjar pituitari dan endokrin dengan melepaskan epinephrine, norepinephrine dan cortisol. Cortisol yang sedikit maka akan mudah memperbaiki aktivitas sel darah putih sehingga sistem imun kembali berfungsi normal.

Pengaruh Terapi Musik

Beberapa musik yang digunakan dalam terapi musik adalah musik sedatif yang mempunyai ritme selaras dengan detak jantung manusia dalam keadaan normal sehingga memberikan efek emosi positif dan efektif menjadikan individu merasa lebih sejahtera. Penelitian (Batt-Rawden, 2010) membuktikan bahwa musik memiliki kekuatan menyembuhkan dengan memberikan efek menenangkan, menginspirasi, memberi motivasi, memberikan rasa nyaman, santai dan kestabilan dalam diri. Musik dapat meningkatkan afek positif serta menurunkan depresi dengan cara menstimulasi bagian otak dan memperbaiki regenerasi neuron (Castillo-Perez, Gomez-Perez, Velasco, Perez-Campos & Mayoral, 2010). Musik memiliki pengaruh yang menguntungkan individu yaitu musik sebagai tempat melampiaskan emosi dan mengekspresikan emosi dan dapat mengontrol emosi, pemikiran dan perasaan negatif, selain itu musik dapat meningkatkan efikasi diri, kepercayaan diri, harga diri, meningkatkan kenyamanan di lingkungan sosial baru, meningkatkan hubungan sosial di dalam maupun di luar rumah, tempat mengekspresikan kreativitas (Walker & Boyce-Tillman, 2002). Daniel Goleman (dalam Carr, 2004) menyatakan kemampuan individu dalam mengatur kehidupan emosinya dengan menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial merupakan kecerdasan emosi yang berguna untuk mencapai kesejahteraan emosi individu. Lebih lanjut Goleman mengemukakan koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya (Linley & Joseph, 2004).

Referensi:

 

Parncutt, R., & McPherson, E, G. (2002). The science and psychology of music performance: creative strategies for teaching and learning. New York: Oxford University Press, Inc.

 

Krout, E, R. (2007). Music listening to facilitate relaxation and promote wellness: integrated aspect of our neurophysiological responses to music. The Arts in Psychoterapy, 34, 134 – 141.

 

Bangalore, Lakshmi. (2007). Brain development. New York: Chelsea House.

Evans- Martin, F. (2007). Emotion and stress. New York: Chelsea House.

 

Carr, Alan. (2005). The handbook of child and adolescent clinical psychology. London: Taylor & Francis e-Library Publisher.

 

Rubin, T, Robert., & Pfaff, W, Donald. (2009). Hormone/behavior relation of clinical importance: endocrine system  interacting with brain and behavior. Oxford: Elsevier Inc . All rights reserved.

 

Batt-Rawden, K, B. (2010). The benefits of self-selected music on health and well-being. The Arts in Psychotherapy, 37, 301 – 310.

 

Castillo-Perez, S., Gomez-Perez, V., Velasco, M., Perez-Campos, E., & Mayoral, M. (2010). Effects of music therapy on depression compared with psychotherapy.The Arts in Psychotherapy.Vol: 37,pp: 387–390.

 

Walker, J., & Boyce-Tillman, J. (2002). Music lessons on prescription? the impact of music lessons for children with chronic anxiety problems. Health Education, 102(4), 172 – 179.

 

Linley, P, A., & Joseph, S. (2004). Positive Psychology in Practice. New Jersey. John Wliey and Sons Inc.

 

Carr, Alan. (2004). Positive psikologi: the science of happines and human strenghts. Hove: Brunner-Routledge.