ISSN 2477-1686

Vol.2. No.13, Juli 2016

Memilih Tontonan Yang Tepat Untuk Anak

Selviana 

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Mari sejenak kita tengok beraneka tayangan yang melintas bebas di layar televisi kita. Ada yang baik, tapi tak jarang juga tayangan televisi yang mengandung “sampah” sekalipun bisa dinikmati anak-anak dengan mudah. Tayangan yang secara tidak langsung mengandung kekerasan, horor-horor, maupun candaan yang melecehkan orang lain. Bila tayangan-tayangan seperti ini dikonsumsi anak, maka bisa membentuk perilakunya dikemudian hari. Berdasarkan pengamatan, banyak anak-anak yang mengeluarkan kata-kata kotor, memukul atau bertengkar dengan temannya di sekolah, bahkan bunuh diri karena terpengaruh dengan tayangan televisi yang ditontonnya.

Contoh Kasus

Sebuah contoh adalah Heri. Seorang siswa di SMP Taman Siswa Kebayoran ini tewas karena menirukan adegan Limbad (seorang pesulap dalam acara The Master RCTI). Berdasarkan keterangan orang tua dan teman-temannya, Heri memang kerap meniru aksi-aksi yang dilakukan Limbad. Heri yang sangat menggemari Limbad bahkan pernah menyakiti dirinya sendiri dengan menusuk-nusukkan benda tajam ke tubuhnya seakan ia mempunyai ilmu kebal seperti Limbad. Hingga kini kedua orang tua Heri, Abi Muklas dan Eti terus menyesali tindakan mereka yang telah membiarkan Heri terlalu asyik sendiri dengan tayangan TV (Nurnisya, 2013).

Kasus Heri merupakan salah satu bukti nyata yang terjadi pada anak yang menjadi korban tayangan televisi, masih banyak Heri-Heri lainnya yang menjadi korban tontonan televisi yang berakibat fatal pada anak dan dapat menjadi pelajaran berharga secara khusus bagi orang tua untuk dapat menolong anak-anak mereka dalam memilih dan mendampingi anak saat menonton televisi.

Televisi dan Anak

Tanpa adanya bimbingan orang tua, anak- anak akan menangkap bahwa realita dalam “the magic box” atau televisi ialah realita yang sebenarnya. Mereka tidak memahami bahwa tayangan tersebut telah mengalami banyak proses dari editing hingga tahap penambahan efek sehingga terlihat seperti realita yang sebenarnya. Jika orang tua juga tidak memperhatikan jam tonton bagi anaknya, maka akan semakin meningkatkan kepercayaan anak-anak terhadap tontonannya. Jika tontonannya positif maka anak juga mendapatkan manfaat positif, namun bila tontonannya negatif maka implikasinya juga akan negatif.

American Academy of Pediatrics (dalam Barliana, 2004), mengungkapkan bahwa anak-anak dan remaja yang banyak menonton tayangan kekerasan seperti pembunuhan dan penglukaan, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan tontonan, cenderung menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan tindakan agresif, atau sebaliknya bersikap ketakutan, depresi, trauma dan disorder. Dalam soal seks, anak-anak juga cenderung meniru tontonan orang dewasa yang disajikan sebagai sesuatu yang normal, penuh kesenangan, tanpa resiko, dan tanpa norma. Mereka juga banyak menerima pesan dan lalu cenderung meniru bahwa merokok dan minum minuman keras adalah simbol kejantanan, sensualitas, dan kesuksesan. Sementara iklan komersial mendorong budaya hidup konsumtif dengan membeli apapun yang tidak diperlukan, serta membentuk pola makan yang tidak sehat.

Peran Orangtua sebagai Pemberi Informasi kepada Anak

Pertahanan pertama yang dilakukan harus dimulai dari lingkungan terdekat si anak, yakni orang tua. Parenting dalam hal ini tidak hanya terbatas pada orang tua kandung, tapi juga meluas pada orang tua tiri, orang tua angkat, maupun kakek dan nenek. Nathason (dalam Nurnisya, 2013) membagi mediasi orang tua menjadi tiga:

  1. Active mediation, percakapan langsung antara orang tua dan anak saat menyaksikan televisi. Percakapan tersebut bisa berlangsung secara umum, atau orang tua memberikan komentar-komentar terhadap tayangan yang disaksikan atau orang tua memberikan tambahan informasi dan mengajak anaknya untuk menerka kejadian apa yang sebenarnya diperlihatkan.
  2. Restrictive mediation, orang tua membatasi secara langsung pola tontonan anak. Dalam mediasi ini orang tua memberikan peraturan pada anak-anaknya mengenai program apa yang boleh dan tidak boleh ditonton, serta orang tua membatasi jumlah waktu yang diperbolehkan bagi anaknya untuk menonton.
  3. Coviewing, orang tua mennyaksikan televisi bersama dengan anaknya. Hal ini hampir sama dengan mediasi aktif, tapi dalam hal ini orang tua hanya menemani sehingga anak merasa dibatasi dengan sendirinya.

Dengan diberlakukannya mediasi ini anak akan mendapatkan sebuah informasi alternatif selain informasi dari televisi. Karena mediasi yang paling baik dilakukan orang tua adalah mediasi aktif, maka penting bagi orang tua untuk meningkatkan ilmunya tentang media, salah satunya ialah media literacy (melek media) yang merupakan perspektif yang di gunakan untuk secara aktif membuka diri kepada media guna menafsirkan makna pesan yang kita hadapi dan memberdayakan diri kita dari proses kontrol atas media.

Berdasarkan pandangan Nathason terkait mediasi orang tua di atas, kiranya dapat menjadi masukan khususnya bagi orang tua agar dapat lebih berperan sebagai palang pintu pertama bagi setiap informasi yang diterima oleh anak yang tentu saja dapat berpengaruh pada pola berfikir, berucap dan perilaku anak.

Referensi:

Barliana, Syaom. (2004). Pengaruh siaran televisi dan video/computer game terhadap pendidikan anak: Implikasi bagi pengembangan teknologi dan strategi pembelajaran. Makalah Konferensi Internasional Kerjasama Universitas Pendidikan Indonesia dengan University Pendidikan Sultan Idris  di Kuala lumpur, Malaysia.

Nurnisya, Yulianti. (2013). Strategi Pencegahan Pengaruh Buruk Media Televisi pada Anak-anak. Jurnal Komunikator Universitas Muhamadiyah Yohyakarta, 05, 21-27.