ISSN 2477-1686

Vol.2. No.13, Juli 2016

 

Berpikir Positif: Memaknai Tantangan Hidup Secara Positif

Devi Jatmika

Fakultas Psikologi, Universitas Bunda Mulia

Perjalanan Hidup Manusia

Proses perjalanan hidup tentu saja tidak luput dari berbagai masalah. Sejak kita lahir, seorang bayi sudah dihadapkan pada masalah untuk menyesuaikan diri dengan dunia di luar rahim ibundanya, menyesuaikan dengan rasa dingin, rasa panas, lapar dan sebagainya. Ketika kanak-kanak, merasakan masalah ingin bermain tetapi harus belajar dengan berbagai pelajaran tambahan di luar jam sekolah, mereka ingin menjadi lebih mandiri, menguasai keterampilan dan pengetahuan dengan dukungan tanpa tekanan-tekanan sosial.

Ketika beranjak remaja, remaja menjadi masa untuk mempersiapkan diri menjadi manusia dewasa. Dalam prosesnya ada remaja yang sukses melalui masalah-masalah namun adapula Beberapa diantaranya kesulitan dalam menemukan identitas dirinya, terjebak dalam masalah emosi dan keputusasaan menghadapi masa depan.  Selanjutnya, di masa dewasa awal ia dihadapkan dengan seberapa sukses dan berhasil dirinya dengan karir dan keluarga. Di masa dewasa menengah, masalah-masalah rumah tangga, kemampuan mendidik sebagai orangtua dan menciptakan generasi penerus selanjutnya.

Hal ini terus berlanjut hingga pensiun dan menua, dimanakah ia akan tinggal? Bersama siapakah ia akan tinggal? Siapa yang menghidupi ketika tua nanti? Penyakit-penyakit masa tua, kehilangan pasangan yang dicintai dan menjelang kematian. Ya, bahkan menjelang kematianpun masih berpikir mengenai berbagai masalah, bagaimana keluarga yang diinggalkan?

Konsep Berpikir Positif

Masalah-masalah yang dialami tentu saja tidak terhindarkan dan perlu penerimaan yang besar ketika banyak hal tidak tercapai sesuai dengan harapan. Bagaimana setiap orang mempersepsikan suatu hal apakah menjadi suatu masalah dan seberapa besar bobot dari masalah tersebut. Tekanan-tekanan dalam yang dialami seseorang menciptakan stress. Namun, Lazarus dan Folkman (1984) menyebutkan bahwa stress merupakan hasil dari penilaian individu terhadap suatu peristiwa,bagaimana memaknai suatu peristiwa yang membuat stress barulah tercipta stress.

Seseorang yang mampu berpikir positif akan melihat masalah yang mebuat stress menjadi suatu hal yang kurang mengancam dibandingkan seseorang yang senang berpikir negatif. Pikiran positif berhubungan dengan emosi positif dan konstruk lainnya seperti optimism, harapan, bahagia dan kesejahteraan psikologis. Mc Grath (dalam Naseem & Khalid, 2010) mendefinisikan berpikir positif sebagai keseluruhan sikap yang terwujud dalam pikiran, perilaku, perasaan dan ucapan yang menuju ke arah pertumbuhan dan sukses.

Berpikir positif pada dasarnya adalah pendekatan melihat tantangan dalam hidup dengan lebih positif, yang bukan berarti mengabaikan hal-hal buruk namun dengan berpikir positif seseorang dapat memaknai situasi yang buruk  dan berusaha yang terbaik untuk menghadapinya, belajar untuk melihat yang terbaik dari orang lain dan melihat diri dan kemampuan yang dimiliki dalam arah yang positif.

Manfaat Berpikir Positif

Orang-orang yang berpikir positif cenderung menjelaskan penyebab suatu kejadian atau dikenal dengan istilah explanatory style.  Orang-orang yang optimis, mereka cenderung memberikan penghargaan pada diri ketika hal yang baik terjadi dan umumnya menyalahkan faktor-faktor luar sebagai penyebab hasil yang buruk. Mereka melihat peristiwa-peristiwa negatif sebagai sesuatu yang jarang dan sementara. Sebaliknya,  orang-orang yang pesimis, cenderung menyalahkan diri mereka ketika sesuatu yang buruk terjadi, namun gagal untuk memberikan penghargaan pada diri sendiri ketika hal yang baik terjadi. Mereka juga cenderung melihat peristiwa-peristiwa negatif memang sepatutnya terjadi dan bertahan lama (Selligman dalam Cherry, 2014). Beberapa manfaat dari berpikir positif memaknai tantangan hidup secara positif diantaranya adalah:

1.    Berpikir positif membantu untuk membangun keterampilan kita dalam menghadapi masalah. Dengan berpikir positif seseorang membuka pikirannya, menelaah kembali dari kegagalan, hal-hal yang perlu dipelajari di kemudian hari yang akan menambah keterampilan kita jika bertemu dengan masalah serupa. Berpikir positif menjadikan tantangan adalah pelajaran dan bukan suatu hal yang menakutkan untuk dihindari.

2.    Menjadi pribadi yang lebih resilien. Resiliensi dipercaya menjadi dasar sistem adaptasi (Yates, Egeland, & Sroufe dalam Yates & Masten, 2004). Dengan berpikir positif membantu memudahkan diri kita untuk resilien di tengah tantangan yang muncul di luar dugaan. Orang-orang yang resilien memberikan energi positif baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitar mereka.

3.  Membantu diri menjadi lebih sehat secara fisik dan psikologis. Dengan berpikir positif mengurangi penyakit-penyakit yang muncul. Emosi yang positif dan pikiran yang positif memiliki peran yang penting dalam melindungi tekanan darah dan jantung (Affleck, Tennen & Croog dalam Naseem & Khalid, 2010). Berpikir positif juga mengurangi tingkat deresi dan kemungkinan depresi (Taylor dalam Naseem & Khalid, 2010).

Mari Kita Terapkan Berpikir Positif

Berpikir positif berarti merubah sudut pandang kita dalam memaknai setiap kejadian yang tidak terduga dalam kehidupan. Pikiran yang positif menciptakan emosi yang positif, menjadikan diri lebih bahagia dan menyebarkan emosi positif kepada orang lain. Marilah kita mulai berpikir positif hari ini.

Referensi:

Cherry, K (2014). What is positive thinking?. Retrieved from 

http://psychology.about.com/od/PositivePsychology/f/positive-thinking.htm

 

Yates, T. M., & Masten, A. S. (2004). Positive development across the life span . In Linley, P. A., & Joseph, S. (Eds.),  Positive Psychology in Practice (pp. 521- 538). NJ: John Wiley & Sons, Inc.

 

Naseem, Z., & Khalid, R. (2010). Positive thinking in coping with stress and health outcomes: Literature review. Journal of Research and Reflections in Education, 4 (1), pp 42 – 61.

 

Seligman, M. E. P., & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive psychology: An Introduction. American Psychological Association, 55(1), pp. 5-14.